Picture
Malam itu sahabat saya, Joe, dari Korea Selatan yang selama ini mendanai berdirinya community learning center untuk anak-anak tidak mampu di perkampungan kumuh di Bekasi, Jakarta dan Bandung menelpon saya:
Joe  : "Ines, I am sending my teachers to your house tomorrow. Please train them."
Saya: "What? Excuse me...Did I hear you wrong? Tomorrow?"
Joe  : "I know it's kind of sudden but the teachers from Bandung are already in Bekasi. We cannot reschedule, please make time for them. They really want to see you."
Saya: "What do you want me to do with them? And how many of them exactly?"
Joe  : "16 of them. First of all, please discuss the legal issues with them. Then...you take care of the rest."
Begitulah kronologis pemaksaan itu terjadi. Karena tidak ada pilihan maka mau tidak mau saya tetap harus menyambut guru-guru dari community learning center teman saya ini.

Karena kurang enak badan, pagi itu saya menunggu para guru tersebut dengan kurang bersemangat. Saya sungguh berharap acara hari itu dibatalkan. Jam 10 pagi tepat, 2 mobil berhenti di depan rumah saya dan dari dalam mobil itu turunlah guru-guru dengan wajah super ceria meskipun semuanya bersimbah keringat karena duduk berhimpitan dan kepanasan di dalam mobil. Begitu memasuki rumah, semua langsung duduk di lantai dan membuka buku catatan. Saya terkesima. Sebegitu pentingnya pertemuan ini bagi mereka sehingga mereka membawa buku catatan. Saya jadi malu karena tidak menganggap pertemuan pagi itu sebagai pertemuan penting bagi saya.

Sesi pertama saya berbagi mengenai masalah landasan hukum jalur pendidikan informal dan non formal. Mereka mencatat.
Sesi kedua saya berbagi mengenai metode-metode mengajar yang membebaskan. Mereka bertanya.
Sesi ketiga mereka berbagi cerita dan pengalaman mereka mengajar selama ini. Saya terpana dan terpesona.

Begitu banyak hal yang telah mereka lalui dan lakukan yang tidak pernah saya alami di sekolah menara gading. Dari anak yang rambutnya berkutu sampai orangtua yang sering memukul anaknya sehingga anaknya menjadi tidak normal. Belum lagi orangtua yang menolak untuk mengirimkan anak-anaknya belajar dan mengamuk di learning center.

Tidak terasa 5 jam waktu berdiskusi berlalu dengan cepat. Seorang guru menyeletuk "senang akhirnya bisa belajar dari guru benaran." Hati saya tersentuh, begitu rendah hatinya mereka sehingga tidak menyebut diri mereka guru yang sesungguhnya. Padahal,
                                                          2 teach
                                                          2 touch life +
                                                          ------------
                                                          4 ever
dan mereka adalah guru-guru sejati karena kasih sayang dan kerelaan mereka untuk mengajar anak-anak yang tersingkirkan ini akan mengubah hidup anak-anak ini selamanya.

I am so proud of you all. Kalau ada oknum diknas atau makelar-makelar ijasah yang menghalangi anak-anak ini untuk bisa mengikuti ujian kesetaraan dan memeras, kita akan menghadapinya bersama. We fear NOTHING!


4/28/2011 12:23:47

This is really a great help in a virtual learning to educate one self

Reply



Leave a Reply.

    Picture

    Me as an Advocate

    - As an education advocate in my country, Indonesia, I am not as cute as my avatar.

    - My writings are both loved and hated by many.

    - My volunteer works in underdeveloped schools and community learning centers are cherished and despised.

    - I can be good friends with vampires and furries but I cannot be friends with real life griefers who steal the rights of the children to get the education they deserve.

    - I often get troubles in RL because of my works and writings. Sometimes I wish I could just teleport those RL griefers to an eternal laggy sim.

    Archives

    Oktober 2011
    Mai 2011
    März 2011
    Februar 2011
    November 2010
    September 2010
    August 2010
    Juli 2010

    Categories

    Alle
    First Life
    Second Life